๐ŸŽ 4 Golongan Manusia Menurut Imam Al Ghazali

Ikhtiarberasal dari bahasa Arab (ุฅุฎู’ุชููŠูŽุงุฑูŒ) yang berarti mencari hasil yang lebih baik. Adapun secara istilah, pengertian ikhtiar yaitu usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi. Yangdemikian itu adalah karunia yang amat besar." (QS Faathir : 32) Dalam ayat di atas dijelaskan tiga golongan manusia dalam menerima Al-quran adalah seperti ini : Pertama : Golongan hamba-Nya yang dzolim. Kedua : Golongan Muqtashid. Ketiga : Golongan saabiq bil Khairaat. Golongan pertama (dzolim), Syekh Nawawi memberikan definisi/pengertian MenurutImam Al-Ghazali, pengertian akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa seorang manusia yang dari sifat tersebut akan timbul suatu perbuatan yang mudah atau gampang dilakukan tanpa perlu adanya pemikiran dan pertimbangan lagi. Golongan Akhlak. Akhlak dalam Islam dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu : 1. Akhlak Terpuji Akhlakmanusia secara semulajadi. Imam Al-Ghazali kategorikan manusia kepada empat golongan berdasarkan tabiat semulajadi mereka sebelum menerima pendidikan akhlak iaitu: - Manusia yang bodoh, golongan ini tidak dapat membezakan antara perbuatan yang baik dan buruk. - Manusia yang mengetahui sesuatu perkara yang buruk tetapi tidak membiasakan ADABMENUNTUT ILMU MENURUT IMAM AL-GHAZALI 1) Menjauhi perkara-perkara yang boleh merosakkan akhlak yang murni, kerana ilmu amat mudah mendekati orang yang baik budi pekertinya dan jiwa yang sentiasa bersih dan tenang. Penuntut ilmu tidak boleh bersikap angkuh dan bongkak terhadap golongan intelektual dan guru. 4) Orang yang bersifat Dalampengantar yang ditulis dalam buku Rawdah at-Talibin wa โ€˜Umdah as-Salikin diterjemahkan menjadi Tangga Menuju Tuhan (edisi 2003), dikatakan bahwa salah satu inti pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Bidayah al-Hidayah, yakni bahwa ilmu dan hidayah itu saling berkaitan. Dengan kalimat lain, hidayah tidak bisa digapai tanpa pengetahuan, dan 4Golongan Manusia Menurut Imam Al-Ghazali ADALAH Syeikh Imam al Ghazali atau bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafii adalah ulama produktif. Tidak kurang 228 kitab telah ditulisnya, meliputi berbagai disiplin ilmu; tasawuf, fikih, teologi, logika, hingga filsafat. Sementarakata Su' merupakan masdar dari Sa'a-Yasu'u-Saw'an yang artinya buruk, jelek, dan jahat. Dengan demikian, Ulama Su' bermakna ahli ilmu yang buruk atau ulama buruk (tercela). Imam Al-Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayah menerangkan ciri-ciri Ulama Su'. Beliau menukil Hadis Nabi yang artinya: "Siapa yang berยญtambah ilmu, tapi tidak Imamal-Ghazali dalam mensyarahkan nama Allah iaitu al-Hakam, meletakkan anal ogi mudah dangan jawapan yang mendalam maksudnya a Metode khusus pendidikan agama. Metodik pendidikan agama menurut Al-Ghazali, pada prinsipnya dimulai dengan hafalan dan pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran, setelah itu penegakan dalil-dalil dan keterangan yang menunjang penguatan akidah. 4Golongan Manusia Menurut Imam Al Ghazali, Siapa Saja Mereka? Admin Dakwah, Pendidikan, Tokoh Edit. Imam Al-Ghazali merupakan seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian Dalamkitabnya Ihya Ulumiddin, dengan menukil ungkapan dari Al-Kholil bin Ahmad, Al Ghazali menggolongkan 4 jenis manusia yaitu: 1. Rajul yadri wa yadri annahu yadri. 2. Rajul yadri wa laa yadri annahu yadri. 3. Rajul laa yadri wa yadri annahu laa yadri. 4. Rajul laa yadri wa laa yadri annahu laa yadri. ZFA89. Di kalangan sunni, khususnya di Indonesia, Imam al-Ghazali merupakan ulama yang masyhur. Imam al-Ghazali terkenal berkat keluasan ilmunya dalam segala bidang, mulai dari tasawuf, fikih, teologi hingga filsafat. Di samping itu, pemikiran Imam al-Ghazali menjadi rujukan serta pijakan dalam bidang tasawuf. Hal itu terbukti dari banyaknya karya Imam al-Ghazali yang dikaji di berbagai pesantren di Indonesia. Masterpeace Imam Ghazali, Ihya Ulumudin menjadi daya tarik tersendiri di kalangan pesantren, bahkan perguruan tinggi untuk mengkaji dan menelitinya. Di masa dinasti Abasiyah dan Saljuk, Imam al-Ghazali sangat dihormati dan disegani banyak orang. Sampai pada waktu itu, Imam al-Ghazali mendapat gelar Hujjatul Islam. Gelar ini disematkan kepada beliau karena kemampuan daya ingat yang kuat dan bijak dalam berhujjah. Dalam pandangan Imam al-Ghazali, manusia terbagi menjadi empat golongan Pertama, Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri Seseorang yang Tahu berilmu, dan dia Tahu kalau dirinya Tahu. Menurut al-Ghazali, kelompok pertama adalah orang-orang yang alim = mengetahui. Bagi orang awam, yang masih butuh bimbingan, sudah seharusnya mengikuti laku lampahnya orang alim tersebut. Sebab, duduk bersamanya akan menjadi pengobat hati sekaligus menambah wawasan. Orang yang termasuk golongan ini, senantiasa akan mengamalkan ilmunya semaksimal mungkin. Ia tahu kalau dirinya memiliki keluasan ilmu, sehingga harus mengajarkan serta mengamalkan ilmunya. โ€œManusia jenis ini adalah manusia unggul. Manusia yang sukses dunia dan akhirat.โ€ Kedua, Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri Seseorang yang Tahu berilmu, tapi dia Tidak Tahu kalau dirinya Tahu. Orang yang kedua ini berbeda dengan orang yang tergolong kelompok pertama. Kalau orang pertama, kita harus mengikutinya. Namun kepada orang kedua ini, kita mengingatkannya. Ia memiliki ilmu dan kecakapan, tapi dia tidak pernah menyadari kalau dirinya memiliki ilmu dan kecakapan. Orang seperti ini acapkali dijumpai di tengah-tengah kita. Ia sejatinya mempunyai segudang potensi yang luar biasa. Akan tetapi, orang tersebut tidak tahu akan potensi yang ada pada dirinya. Sehingga selama dia belum bangun dan sadar diri, orang ini hanya sukses di dunia tapi rugi di akhirat. Ketiga, Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri Seseorang yang tidak tahu, tapi dia tahu bahwa dirinya tidak tahu. Orang yang masuk kategori kelompok ketiga ini, menurut Imam al-Ghazali, masih tergolong manusia yang baik. Sebab, ia meenyadari kekurangan yang ada pada dirinya. Sehingga, ia mampu menempatkan dirinya di tempat yang sepatutnya. Orang jenis ini akan senantiasa intropeksi diri dan mau belajar dari sebuah kesalahan. Dengan belajar, ia berharap suatu saat nanti bisa berilmu dan mampu menjadi lebih baik lagi. Orang seperti ini sengsara di dunia tapi bahagia di akhirat. Keempat, Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri Seseorang yang Tidak Tahu tidak berilmu, dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu. Dalam pandangan Imam al-Ghazali, kelompok terakhir ini merupakan orang-orang yang paling buruk. Ia selalu merasa dirinya mengerti, tahu dan mempunyai ilmu. Padahal, ia tidak tahu apapun. Ibarat pepatah lama, tong kosong nyaring bunyinya. Tipologi orang seperti ini biasanya susah untuk disadarkan. Ia merasa benar dengan apa yang dikerjakannya dan akan membantah kalau diingatkan perihal kesalahan yang dilakukanya. Berurusan dengan orang yang seperti demikian akan terasa merepotkan dan susah. Sebab, ia merasa dirinya paling benar. Menurut Imam al-Ghazali, orang tersebut termasuk orang yang tidak sukses di dunia, juga merugi di akhirat. Untuk itu, mari kita senantiasa bermuhasabah atau intropeksi diri masing-masing agar menjadi pribadi yang lebih baik. * Oleh Zakiyah; Pecinta buku JAKARTA - Ketika ilmuwan menyebut manusia adalah jenis kera besar dari kingdom animalia, nalar agamis seseorang biasanya menolak. Doktrin yang selama ini dipercaya agama-agama samawi di dunia tidaklah seperti itu. Manusia, dimulai dari Adam, tercipta sempurna di surga dan diturunkan ke bumi sudah dalam bentuk completely built up berorgan sempurna, cerdas, dan berperasaan. Di sisi lain teori evolusi telah diterima luas oleh komunitas ilmiah. Ia bukan isapan jempol, tetapi teruji berdasarkan sejumlah bukti fisik yang tak terbantahkan dan didukung teori saintifik. Teori evolusi memiliki bukti-bukti empiris, paleontologis, homologis, dan genetis. Bukti paleontologis menunjukkan bahwa fosil-fosil yang ditemukan memang mengalami kemajuan bertahap dalam tingkat kompleksitasnya. Darwin tidak berspekulasi, tetapi didukung dalil ilmiah meyakinkan. Bukti homologis menunjukkan bahwa manusia dan spesies lain, seperti kera, anjing, dan kelelawar, meski memiliki perbedaan, juga memiliki banyak kesamaan. Teori yang dicetuskan oleh Charles Darwin 1809-1882 ini memiliki judgement final bahwa seluruh makhluk hidup di bumi, termasuk manusia, berasal dari nenek moyang yang sama. Semua yang bernapas di bumi ini saling terhubung melalui bio-historis karena mereka semua bersaudara dalam satu pohon kehidupan. Manusia tidak terkecuali. Menurut analisa genetiknya, ia bukan special edition, tetapi bagian wajar dalam alur dunia biologis. Kontradiksi sains dan agama ini oleh Shoaib Ahmed Malik coba dijembatani dengan sebuah pola pikir induktif yang kemudian berhasil menemukan benang merah keduanya. Dalam buku berjudul asli "Islam and Evolution Al-Ghazali and the Modern Evolutionary" ini, Asisten Profesor Natural Sicences di Zayed University, Dubai ini mengutip hampir semua karya Imam Ghazali terkait penciptaan. Shoaib memulai dengan memaparkan berbagai pendapat tentang evolusi yang ternyata sangat beragam, dengan beda tipis-tipis. Ia menggunakan pemikiran Al-Ghazali sebagai pisau analisa untuk mengurai kontradiksi antara fakta ilmiah dan narasi transenden di kitab suci. Dalam teologi penciptaan, sebenarnya terdapat sejumlah ulama klasik diantaranya adalah Abu Hasan al-สฟAsyโ€™ari, Abu Bakar al-Baqillani, Dhia'uddin al-Juwaini, Fakhruddin ar-Razi, dan lain-lain. Di antara nama-nama besar yang ada, Al-Ghazali dianggap seorang teolog dan saintis yang memiliki pemahaman komprehensif mengenai awal mula kehidupan. Keterangan imam Ghazali dalam berbagai karyanya kemudian dikaji secara metafisik dan hermeneutik guna membawa pemikiran abad pertengahan ke alam kontemporer. Al-Ghazali lahir pada tahun 1058 di Tus, Khurasan. Sebuah daerah yang kini masuk dalam wilayah Iran. Ia adalah seorang teolog dan hakim terkenal pada saat itu. Setelah gurunya al-Juwaini wafat pada 1085, Al-Ghazali kemudian melebihi pencapaian gurunya. Al-Ghazali menguasai semua cabang sains teoritis seperti logika, filsafat, yurisprudensi, dan teologi. Al-Ghazali 1058-1111 hidup 750 tahun sebelum Darwin dan tak pernah membaca buku The Origin of Species. Tetapi sejumlah karya Al-Ghazali ternyata banyak membahas prinsip-prinsip dan mekanisme penciptaan serta tipologinya. Hal ini mengungkap seberapa jauh Islam dan evolusi saling mengisi. Tantangan terbesar Shoaib adalah para penganut kreasionisme yang berpandangan bahwa seluruh spesies makhluk hidup tercipta kun fayakun tanpa melalui proses alamiah. Aliran ini melihat teori evolusi sebagai dongeng tak berguna dan merusak dasar-dasar keimanan. Di tangan para kreasionis inilah pandangan tentang evolusi menjadi tidak jernih karena sering dimiskonsepsi dengan sejumlah โ€œismeโ€. Evolusi manusia dianggap identik dengan ateisme, naturalisme, marxisme, komunisme, nihilisme, kapitalisme, fasisme, kolonialisme, imperialisme, sekularisme, saintisme, dan sebagainya. Kejumbuhan ini membuat diskusi tentang evolusi tak pernah murni saintifik. Maka sebelum bicara jauh tentang tema ini, Shoaib meminta pembacanya menjauhkan hal-hal yang bukan bagian dari isu evolusi itu sendiri. Agama, khususnya agama-agama samawi seperti Yahudi, Kristen, dan Islam, meyakini manusia diciptakan secara ajaib oleh Tuhan. Teks-teks otoritatif dalam Islam telah menyatakan dengan tegas, seperti di QS. al-Anโ€™รขm [6] 2, QS. al-Hijr [15] 26, dan QS. al-Hajj [22] 5. Semuanya menegaskan bahwa manusia diciptakan langsung oleh Allah. Namun sains, di pihak lain, menyatakan bahwa manusia lahir dari proses seleksi alam dan memiliki leluhur yang sama common ancestor. Tentang kontradiksi ini sikap intelektual muslim terbagi empat. Pertama, kreasionisme yang menolak sepenuhnya teori evolusi. Menurut mereka semua makhluk diciptakan oleh Tuhan dari ketiadaan dan sudah ahsani taqwim. Kedua, Lihat halaman berikutnya >> BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini Berpasangan-pasangan adalah bagian dari ajaran syariat. Manusia diciptakan berpasang-pasangan agar dapat melanggengkan keturunan sesuai dengan tuntunan syariat agama Islam. Tetapi tentu saja dalam memilih pasangan hidup, Islam memberikan tuntunan. Imam Al-Ghazali menyebutkan delapan kriteria yang perlu diperhatikan dalam memilih pasangan. Imam Al-Ghazali menyebutkan delapan hal ini agar akad perkawinan menjadi langgeng dan kebahagiaan perkawinan terwujud. Imam Al-Ghazali menyebutkan religiusitas/keagamaan dan akhlak pada dua poin pertama. Hal ini menunjukkan bahwa dua poin tersebut merupakan faktor penting yang patut diperhatikan mengingat perkawinan tidak hanya berisi jalinan hubungan di dunia, tetapi juga di akhirat. ุฃู…ุง ุงู„ุฎุตุงู„ ุงู„ู…ุทูŠุจุฉ ู„ู„ุนูŠุด ุงู„ุชูŠ ู„ุง ุจุฏ ู…ู† ู…ุฑุงุนุงุชู‡ุง ููŠ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ู„ูŠุฏูˆู… ุงู„ุนู‚ุฏ ูˆุชุชูˆูุฑ ู…ู‚ุงุตุฏู‡ ุซู…ุงู†ูŠุฉ ุงู„ุฏูŠู† ูˆุงู„ุฎู„ู‚ ูˆุงู„ุญุณู† ูˆุฎูุฉ ุงู„ู…ู‡ุฑ ูˆุงู„ูˆู„ุงุฏุฉ ูˆุงู„ุจูƒุงุฑุฉ ูˆุงู„ู†ุณุจ ูˆุฃู† ู„ุง ุชูƒูˆู† ู‚ุฑุงุจุฉ ู‚ุฑูŠุจุฉ Artinya, โ€œAdapun hal-hal menyenangkan kehidupan pasangan rumah tangga yang harus diperhatikan pada perempuan agar akad perkawinan menjadi langgeng dan tujuan perkawinan terpenuhi berjumlah 8 hal yaitu ketaatan pada agama atau religiusitas, akhlak, kecantikan, keringanan mahar, kesuburan, status keperawanan, nasab, dan bukan kerabat dekat,โ€ Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr 2015 M], juz II, halaman 43. Tanpa menafikan atau meremehkan poin lainnya, agama/religiusitas dan akhlak mendapat tempat yang cukup penting mengingat urgensinya yang cukup tinggi dalam kehidupan rumah tangga kelak. Agama menempati poin pertama sebagaimana hadits nabi yang sangat populer terkait kriteria calon pasangan. Perempuan salihah akan membantu ketenangan hati suami. Kalau tidak salehah, tentu perempuan tersebut akan menjadi ujian bagi kehidupan rumah tangganya. ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉูŽ ุชูู†ู’ูƒูŽุญู ู„ูŽุฏููŠู†ูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู…ูŽุงู„ูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฌูŽู…ูŽุงู„ูู‡ูŽุงุŒ ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุจูุฐูŽุงุชู ุงู„ุฏู‘ููŠู†ูุŒ ุชูŽุฑูุจูŽุชู’ ูŠูŽุฏูŽุงูƒูŽ Artinya, โ€œPerempuan dinikahi karena agama, harta, dan keelokannya. Pilihlah karena agamanya. Celakalah kamu kalau tidak agamanya itu,โ€ HR Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ahmad. Tentu saja delapan poin ini bukan sesuatu yang mutlak dan absolut bagi semua orang. Tidak semua orang setuju dengan delapan hal yang disebutkan di atas. Tetapi semua orang bersepakat pada sebagian poin di atas, misalnya soal religiusitas atau akhlaknya. Dengan kata lain, setiap orang berhak memiliki kebahagiannya masing-masing sehingga setiap orang memiliki rumusan sendiri dalam memilih calon pasangannya. Sebagian orang merasa nyaman memilih pasangan yang disukainya tanpa mempertimbangkan status keperawanan, nasab, dan kesuburan. Tetapi seyogianya seseorang perlu mempertimbangkan aspek religiusitas dan akhlak pasangan karena keduanya sangat berpengaruh pada kehidupan rumah tangganya ke depan. Delapan poin ini juga tidak hanya berlaku bagi laki-laki dalam memilih pasangan, tetapi juga berlaku sebaliknya. Sumber NU Online

4 golongan manusia menurut imam al ghazali